Aku sedang menggendong Sakinah anakku, saat
menyusuri parit kecil yang ada di sebelahku saat ini, aku melihat dedaunan
yang yang telah layu dan jatuh dari pohon yang berjejer di sekitaran parit
kecil itu, seketika aku terbayang bahwa hal yang sangat di khawatirkan oleh
kedua orang tuaku selama ini akhirnya terjadi padaku, yaitu pernikahan tanpa adanya rasa
suka antara ibuku dan ibu dari bayi ini. Aku dan beberapa kawan lainnya salah
satunya Rahmad memutuskan untuk berlibur dengan sebuah kapal pesiar, kapal ini masih saja belum berlayar, masih sandar di semacam dermaga atau pelabuhan. Saat duduk di buritan kapal, Rahmad yang dari
tadi melihat kesebuah lubang kecil yang tepat berada di dinding tebing
memanggilku dari dudukku, aku menghampirinya, dia memberitahu ku bahwa semacam
ada kode dari lubang itu, aku masih mengingat kata-kata itu, aku memberitahu bahwa di lubang itu ada seorang perempuan, tapi tiba-tiba, setelah aku memberitahu Rahmad bahwa di lubang itu ada seorang perempuan, ntah kenapa
kami saat ini sedang berada di bibir lubang dimana perempuan itu berada. Kami melihat beberapa
perempuan yang beberapa diantara nya memiliki wajah seram seakan ingin keluar
dari lubang tersebut, perempuan yang memberi kode yang aku ceritakan di awal adalah
sosok perempuan seperti dalam game Left4Dead, The Witch, salah satu zombie yang
sangat dihindari oleh player, biasanya The Witch terdengar menangis di
beberapa titik dari alur cerita game tersebut, ketika player mendengar tangisan The Witch, mereka akan berhenti dan berusaha mencari arah suara itu, bukan
untuk menyerang, tapi untuk memastikan keberadaan The Witch untuk segera
menjauh dari lokasi dimana The Witch berada, satu serangan tiba-tiba dari The Witch bisa melumpuhkan bahkan membunuh salah satu player yang terkena serangan The Witch, kira-kira seperti itulah gambaran perempuan yang ku lihat di dalam
lubang tersebut, tetapi bedanya The Witch hanya duduk dan menangis, sedangkan
perempuan yang aku lihat di lubang tersebut, terlihat hanya memakai kaos hitam
dan terikat oleh semacam rantai atau tali yang besar.
Di antara perempuan itu, di sekeliling nya ada perempuan lain yang tidak kalah seram, ada yang berkaos bola, dan lain sebagainya, mereka terlihat dibatasi oleh semacam tali yang kuat, tali yang terikat secara horizontal dari dinding yang satu ke dinding yang berada di depannya, tali itulah yang seakan membatasi pergerakan mereka untuk keluar dari lubang tersebut, aku saat itu berfikir bahwa bagaimana kalau salah satu atau keseluruhan dari mereka berhasil menerobos dan memutus tali tersebut, jawaban ku atas pertanyaan itu terjawab ketika salah satu diantara mereka berhasil memutus tali itu, persis seperti pelari yang memutus tali yang berada di garis finish, aku dan Rahmad berlari sekencang-kencangnya dan berusaha kembali ke kapal, bahkan kami melompat dan menyusuri gang yang ada di sekitaran kapal yang sedang sandar tersebut, di sepanjang gang itu ada mesjid, salah satu orang yang keluar dari mesjid tersebut orang itu memperlihatkan semacam kain kafan ke sosok yang mengejar kami sedari tadi, dan setelah itu seketika mereka hilang, atau mungkin kembali ke lubang itu, aku tidak yakin.
Selanjutnya kami kembali ke kapal bersama dengan orang yang ada di sekitaran mesjid di gang tadi, beberapa penghuni kapal juga ikut serta dengan kami, aku dan Rahmat memberitahukan ke mereka bahwa perempuan yang mengejar kami tadi keluar dari lubang yang berada di dinding di tebing itu.
Setelah sederat cerita dari kejadian di kapal barusan, saat ini aku sedang duduk-duduk di pantai, di sana ada dua buah baterai, dinamo, dan mainan dinosaurus berwarna hijau muda, aku ingat betul akan itu, tidak lupa juga Sakinah bayi kecil ku yang sedar tertidur di sebelah ku. Untuk sakinah, aku sendiri tidak yakin dengan nama itu, tetapi dari yang aku ingat, Sakinah adalah nama yang hampir mirip dengan cerita ku saat ini, untuk itulah aku memutuskan untuk memberikan nama Sakinah ke bayi ini. Saat aku sedang duduk di pantai ini seorang perempuan berbaju cream menghampiriku, perempuan itu duduk di sebelah Sakinah, menurut Defri, paman ku. Perempuan berbaju cream tersebut adalah istriku, dari yang aku lihat, perawakan nya manis, tapi aku tidak yakin saat itu dia memakai jilbab atau tidak, tinggi nya ideal, dan kelihatannya ramah, hal ini terlihat dari dia yang beberapa kali melempar senyuman ke arah ku. Faktanya adalah aku tidak yakin dia adalah istriku, sebab dari peran yang kumainkan dalam cerita ini, aku hanya digambarkan seorang laki-laki yang hanya memiliki seorang anak perempuan.
Selanjutnya disalah satu ruangan, pamanku Defri bertanya kepadaku apakah kalian memiliki foto, aku menjawab ‘iyah’, sambil menunjuk ke salah satu foto yang tergantung di dinding ruangan itu, di foto itu ada aku, Sakinah, dan perempuan berbaju cream tersebut. Disaat yang bersamaan datanglah kedua orang tua dari paman ku Defri, mereka mengajakku ke warung untuk sekedar makan bakso, tawaran itu aku setujui, kami hanya berempat, aku, perempuan berbaju cream, dan kedua orang tua paman ku Defri, Defri tidak ikut saat itu, sesampainya di warung bakso, aku duduk bersebelahan dengan perempaun berbaju cream itu, aku ingat bahwa saat itu dia tidak lagi berbaju cream tetapi berbaju ungu tua bercorak putih.
Terlihat perempuan itu cukup senang atas pertemuan ku dengan dia, tetapi ntah kenapa aku pamit sebentar untuk menjumpai teman ku yang tidak sengaja aku jumpai di warung bakso itu, Egi dan Vahliani, keduanya memang sudah menikah, kami bercengkrama hangat saat itu, dan terlihat, sesekali perempuan berbaju ungu tua bercorak putih itu tertawa melihat tingkah ku saat bercengkrama dengan teman ku, Egi dan Vahliani.
Saat asyik bercengkrama aku memutuskan untuk pergi sebentar
menjemput kawan ku Rahmad yang aku ceritakan di awal. Setelah aku
memutuskan untuk pergi menjemput Rahmad di sebuah stadion, walaupun kembali aku
tegaskan bahwa aku sendiri tidak yakin apakah itu stadion apa tidak, aku
melihat Rahmad dengan motor merahnya, aku memanggilnya, setelah itu kami pun
bersama kembali ke warung bakso itu, akan tetapi sesampainya di warung bakso
itu, saya tidak lagi melihat perempuan berbaju ungu tua bercorak putih
tersebut. Pun, dengan kedua orang tua paman ku Defri aku tidak melihat mereka
disana. Terakhir dari yang aku dengar adalah. Aku dan Dewi saat ini sedang
tidak dalam keadaan baik.
‘jangan salahkan dia, Dewi nya aja yang jarang datang kesini, bahkan kalian berdua masih bertengkar’.
Hanya kalimat itu lah yang aku dengar, dan belakangan akupun tahu bahwa perempuan
berbaju cream atau ungu tua bercorak putih itu adalah Dewi.
****
Posting Komentar
Posting Komentar